Semarang, 11 Maret 2026 – Telah dilaksanakan kegiatan sosialisasi mengenai pemanfaatan biopori sebagai salah satu solusi sederhana untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di SMA Negeri 3 Semarang. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Dra. Eny Hartadiyati WH, M.Si. Med sebagai pemateri yang menyampaikan materi berjudul “Lubang Kecil yang Bisa Menyelamatkan Masa Depan: Biopori untuk Mewujudkan Sustainable Development.”
Dalam sosialisasi tersebut dijelaskan bahwa pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development bertujuan untuk menciptakan keseimbangan antara kebutuhan manusia saat ini dengan kelestarian lingkungan bagi generasi mendatang. Untuk mewujudkan sustainability, terdapat tiga aspek penting yang harus berjalan secara seimbang, yaitu aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Ketiga aspek tersebut menjadi dasar dalam menciptakan kondisi pembangunan yang berkelanjutan. Selain itu, terdapat empat elemen utama dalam pembangunan berkelanjutan, yaitu pertumbuhan dan keadilan ekonomi, pembangunan sosial, konservasi sumber daya alam atau perlindungan lingkungan, serta pemerintahan yang baik (good governance).

Pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development merupakan konsep pembangunan yang bertujuan memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannya. Konsep ini menekankan keseimbangan antara pembangunan manusia dan kelestarian lingkungan. Dalam mewujudkan sustainability, terdapat tiga aspek utama yang harus berjalan secara seimbang, yaitu:
- Aspek ekonomi
- Aspek sosial
- Aspek lingkungan
Ketiga aspek tersebut akan menciptakan kondisi pembangunan yang berkelanjutan. Untuk mencapai tujuan tersebut, terdapat empat elemen utama pembangunan berkelanjutan, yaitu:
- Pertumbuhan dan keadilan ekonomi
- Pembangunan sosial
- Konservasi sumber daya alam atau perlindungan lingkungan
- Pemerintahan yang baik (good governance)

Iklim (Climate) – Mengambil langkah-langkah tindakan yang segera untuk mengatasi perubahan iklim dan dampaknya. Perubahan iklim menyebabkan pola cuaca menjadi tidak menentu, curah hujan semakin ekstrem, serta meningkatkan risiko banjir di berbagai daerah.
Permasalahan Lingkungan
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat halaman sekolah, jalan, atau area permukiman tergenang air setelah hujan deras. Banyak orang menganggap hal tersebut sebagai hal yang biasa. Namun sebenarnya, kondisi ini merupakan tanda bahwa lingkungan sedang mengalami masalah.
Ketika hujan turun, air seharusnya dapat meresap ke dalam tanah. Akan tetapi, di daerah perkotaan air sering kali tidak masuk ke tanah dan justru mengalir di permukaan. Akibatnya, selokan menjadi penuh dan sungai dapat meluap.
Proses aliran air di permukaan tanah ini disebut runoff (aliran permukaan). Runoff menjadi salah satu penyebab utama terjadinya banjir di kota-kota besar. Salah satu penyebab utama air tidak dapat meresap ke dalam tanah adalah karena permukaan tanah tertutup oleh berbagai material kedap air, seperti:
- Beton
- Aspal
- Bangunan
Akibatnya, tanah kehilangan kemampuannya untuk menyerap air hujan. Padahal secara alami, tanah berfungsi sebagai tempat penyimpanan air.
Ironi Siklus Air
Fenomena yang sering terjadi adalah banjir saat musim hujan dan kekurangan air saat musim kemarau. Kondisi ini terjadi karena air hujan tidak disimpan di dalam tanah, melainkan langsung mengalir ke sungai dan akhirnya ke laut. Jika air hujan dapat diserap oleh tanah, maka air tersebut dapat menjadi cadangan air tanah yang berguna pada musim kemarau.
Biopori sebagai Solusi Sederhana
Salah satu solusi sederhana untuk mengatasi masalah ini adalah biopori. Dalam bahasa Inggris, biopori disebut biopore, yang berasal dari kata bio yang berarti kehidupan dan pore yang berarti pori atau lubang.
Biopori merupakan teknologi sederhana berupa lubang resapan air yang dibuat secara vertikal di dalam tanah untuk meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap air hujan.
Lubang biopori biasanya memiliki:
Diameter: sekitar 10–30 cm
Kedalaman: sekitar 80–100 cm
Di dalam lubang tersebut biasanya dimasukkan sampah organik, seperti:
- daun kering
- sisa sayuran
- rumput
Sampah organik ini kemudian akan diuraikan oleh organisme tanah seperti cacing, bakteri, dan mikroorganisme, sehingga membentuk pori-pori alami yang membantu air meresap lebih cepat ke dalam tanah.
Prinsip Kerja Biopori
Biopori bekerja dengan memanfaatkan aktivitas organisme tanah. Ketika sampah organik dimasukkan ke dalam lubang biopori, mikroorganisme akan menguraikannya.
Proses penguraian ini menghasilkan rongga-rongga kecil atau pori di dalam tanah. Rongga tersebut membuat tanah menjadi lebih gembur sehingga air hujan dapat masuk dengan lebih mudah dan tersimpan di dalam tanah. Dengan demikian, biopori tidak hanya membantu penyerapan air, tetapi juga memperbaiki struktur tanah secara alami.
Tujuan Pembuatan Biopori
Pembuatan biopori memiliki beberapa tujuan penting, terutama dalam mengatasi masalah lingkungan di daerah perkotaan, antara lain:
- Meningkatkan penyerapan air hujan ke dalam tanah
- Mengurangi genangan air dan risiko banjir
- Mengolah sampah organik menjadi kompos alami
- Meningkatkan kesuburan tanah
- Menjaga ketersediaan air tanah
Dengan berbagai manfaat tersebut, biopori menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.
Kesimpulan
Dalam siklus air alami, air hujan seharusnya meresap kembali ke dalam tanah. Namun akibat pembangunan yang menyebabkan permukaan tanah menjadi kedap air, proses tersebut sering terganggu. Pembuatan biopori merupakan solusi sederhana yang dapat membantu mengembalikan fungsi tanah sebagai media resapan air. Selain itu, biopori juga dapat membantu mengurangi risiko banjir, meningkatkan kesuburan tanah, serta mendukung keberlanjutan sumber daya air. Dengan menerapkan teknologi sederhana seperti biopori, masyarakat dapat berperan aktif dalam menjaga lingkungan dan mendukung terwujudnya pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bagi masa depan yang lebih baik.
Biopori: Aksi Kecil untuk Menjaga Bumi.
“Bumi tidak membutuhkan orang sempurna yang peduli lingkungan. Bumi membutuhkan banyak orang yang mulai melakukan aksi kecil.”
Oleh: Nasywa Fatika Anindyajati XI-10
SMAGA Media Center
