703 views

Pada sesi kedua, Irmansyah Maulana Firza menjelaskan lebih lanjut mengenai Biopori atau Teknologi Lubang Resapan Biopori (LRB). Biopori merupakan salah satu metode alternatif untuk meresapkan air hujan ke dalam tanah selain menggunakan sumur resapan. Teknologi ini tergolong sederhana, namun memiliki manfaat yang besar dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Pemanfaatan biopori dapat membantu menjaga keseimbangan alam. Selain itu, sampah organik yang sering menimbulkan bau tidak sedap dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengisi lubang biopori sehingga dapat terurai menjadi kompos alami. Dengan demikian, biopori tidak hanya membantu penyerapan air hujan tetapi juga dapat menyimpan cadangan air tanah yang bermanfaat pada musim kemarau.

Cara Pembuatan Biopori

Pembuatan lubang biopori dapat dilakukan dengan beberapa langkah berikut:

  1. Membuat lubang silindris secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 cm. Kedalamannya sekitar 100 cm atau sampai melampaui muka air jika dibuat pada tanah yang mempunyai permukaan air dangkal. Jarak antar lubang antara 50–100 cm.
  2. Mulut lubang dapat diperkuat dengan semen selebar 2–3 cm setebal 2 cm.
  3. Isi lubang dengan sampah organik yang berasal dari sampah dapur, sisa tanaman, atau dedaunan.
  4. Sampah organik perlu ditambahkan jika isi lubang sudah menyusut atau berkurang akibat proses pelapukan.
  5. Kompos yang terbentuk dalam lubang dapat diambil pada setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang.

Lokasi Pembuatan Biopori

Beberapa lokasi yang disarankan untuk pembuatan biopori antara lain:

  • Di dasar saluran air yang dibuat sebagai tempat mengalirkan air hujan.
  • Di area sekeliling tanah tempat pohon tumbuh.
  • Di tepian batas sebuah taman (di rumput bagian pinggirnya).

Tips Pembuatan Biopori

Agar biopori dapat berfungsi secara optimal, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

  1. Jarak antar lubang biopori disarankan antara 50–100 cm.
  2. Jika sampah organik dalam lubang mulai berkurang akibat kinerja mikro-organisme, isi terus hingga ketinggiannya penuh mendekati mulut lubang.
  3. Kedalaman lubang biopori yang berkisar 80–100 cm merupakan angka tentatif yang dapat berkurang secara fleksibel jika permukaan air tanahnya dangkal.
  4. Perkuat bagian mulut lubangnya dengan perkerasan seperti semen atau tulangan besi yang membentuk pola jaring atau kotak-kotak agar tampilan lubang biopori lebih rapi dan aman.
  5. Selain lubang biopori, membuat pilihan perkerasan yang bahan dan desainnya memungkinkan penyerapan air, misalnya konblok yang berlubang dan diisi dengan rumput atau batuan.
  6. Pilih penutup tanah berupa tanaman karena akar tanaman dapat menjadi media untuk mencegah erosi air limpahan serta dapat memperlambat aliran air jika terjadi penumpukan air dalam jumlah besar di atas permukaan tanah.
  7. Sebisa mungkin menghindari atau sedikit demi sedikit mulai mengurangi pemakaian pestisida dan pupuk kimia untuk tanaman karena keduanya dapat menurunkan kualitas air tanah. Sebagai gantinya, gunakan kompos alami yang terbentuk dari sampah organik dalam lubang biopori sebagai pupuk yang lebih alami.

Oleh: Nasywa Fatika Anindyajati XI-10

SMAGA Media Center