Seperti program tahun-tahun sebelumnya, tahun 2019 The Japan Foundation kembali mengadakan program pengajar dari Jepang untuk membantu mengajar di SMA Negeri 3 Semarang. Kali ini pengajar dari Jepang tersebut bernama Kazuyo Shoji. Dalam bahasa Indonesia nama tersebut berarti “Suka Jalan-Jalan”. Gadis berperawakan kecil ini kelahiran Kyoto, Jepang. Ada hal unik ketika ditanya tanggal kelahirannya. Ternyata bagi orang Jepang ditanya tanggal kelahiran dan status adalah hal yang sifatnya tabu. Kazuyo sapaan akrabnya sangat menyukai kegiatan Shado. Shado dalam bahasa Indonesia berarti upacara minum teh.

Gadis ini merupakan salah satu mahasiswi di Toyama University. Jurusan yang diambil adalah Ekonomi Marketing.  Setelah mengikuti “Nihon-go Partners” atau partner guru bahasa Jepang di SMA, gadis ini akhirnya mengajar di SMA Negeri 3 Semarang sejak awal September 2018 sampai dengan akhir Maret 2019.

Tujuan program ini adalah membantu guru bahasa Jepang menyampaikan materi pelajaran/native speaker. Selain itu program ini juga bertujuan memperkenalkan budaya Jepang di sekolah-sekolah.

Gadis ini sangat menyukai loempia dan mi ayam. Kazuyo sangat menyukai mi ayam karena menurutnya makanan ini tidak pernah ditemukan di Jepang.

Ketika ditanya kesan selama mengajar di SMA Negeri 3 Semarang gadis ini berujar bahwa SMA Negeri 3 merupakan sekolah yang sangat besar, siswa-siswinya ramah, dan penuh semangat belajar bahasa Jepang. Ditanya hal yang kurang menyenangkan selama tinggal di Semarang, gadis ini menjawab bahwa sangat menyiksa ketika harus bangun pagi dan beraktivitas karena di Jepang semua kegiatan dimulai siang hari.

Guru pendamping dari SMA N 3 Semarang, Endang Sri Utami, berujar bahwa Kazuyo Shoji merupakan gadis yang lincah, penuh semangat, dan mudah bergaul dengan berbagai kalangan sehingga disukai banyak siswa.

Akhir Maret ini Kazuyo sudah kembali ke Jepang untuk melanjutkan aktivitas kuliahnya. Semoga pengalaman mengajar di SMA N 3 Semarang menjadi inspirasi bagi ganhesa muda. (pt).

Leave a Reply